MENGAPA BELANDA KAYA RAYA DALAM WAKTU YANG LAMA (2)

(tanggapan atas pidato Presiden Prabowo di depan Sidang Paripurna DPR RI – bagian 2)

Tulisan bagian pertama bisa dibaca disini

Fareed Zakaria dalam “Age of Revolutions” berpendapat bahwa zaman keemasan Belanda adalah tempat kelahiran dunia modern. Dengan menggabungkan hak milik, toleransi beragama, manajemen keuangan perusahaan skala besar dan negara yang dipimpin oleh pemerintah berorientasi ‘enterpreneurship’, sebuah negara kecil dengan penduduk kurang dari dua juta jiwa kala itu, berhasil mengungguli kerajaan-kerajaan besar Eropa dan mendominasi kekayaan global selama beberapa generasi.

Berikut adalah bagaimana mereka mencapai status tersebut, diuraikan berdasarkan dimensi spesifik yang diuraikan Zakaria dalam bukunya (dimensi 1, 2 dan 3 tercantum dalam tulisan sebelumnya):

4. Faktor Budaya dan Sosial: Masyarakat Perkotaan yang Egaliter – Budaya Republik Belanda sangat cocok untuk menghasilkan dan mempertahankan kekayaan.

Masyarakat urban: Belanda adalah masyarakat yang paling terurbanisasi di Eropa. Kota-kota menumbuhkan ide, memunculkan inovasi, baku hantam gagasan intelektual, mempercepat perdagangan, dan meruntuhkan hambatan feodal yang kaku.

Budaya berhemat dan anti berlebihan dalam hal kekayaan: Meskipun memiliki kekayaan yang sangat besar, budaya Calvinis Belanda tidak menyukai kemewahan yang mencolok dan boros seperti yang terlihat di istana Prancis atau Spanyol. Alih-alih menghamburkan uang untuk istana-istana besar, orang Belanda menginvestasikan kembali keuntungan mereka ke dalam bisnis, teknologi, dan infrastruktur mereka.

Tingkat literasi dan pendidikan yang tinggi: kegemaran membaca masyarakatnya menghasilkan tingkat literasi tertinggi di dunia, menciptakan tenaga kerja yang sangat terampil dan mudah beradaptasi sehingga mampu mengelola sistem keuangan dan maritim yang kompleks.

5. Regulasi Penting Lainnya & Adaptasi Geografis

Penguasaan atas geografi: Penciptaan lahan karena teritorial sempit dan rawan tenggelam ditelan lautan membutuhkan bentuk pemerintahan kolektif yang unik. “Dewan pengairan lokal” (waterschappen) mengajarkan orang Belanda cara bekerja sama, mengelola infrastruktur bersama, dan menghormati kontrak sipil jauh sebelum mereka membangun kerajaan global.

Prinsip perdagangan bebas: Karena pasar domestik mereka kecil, Belanda adalah pelopor Mare Liberum (Laut Bebas)—konsep hukum bahwa lautan harus terbuka untuk semua negara untuk perdagangan.

Jadi mengapa Belanda, dan bukan kekaisaran-kekaisaran besar seperti Prancis, Spanyol, atau bahkan Turki Ottoman yang menjadi pemimpin ekonomi dunia selama empat abad? Jawabannya terletak pada momentum yang tercipta dari tiga gelombang perubahan besar yang melanda Eropa pada saat itu:

(1) globalisasi yang baru ditemukan ketika Barat meluncurkan Zaman Penjelajahan;

(2) inovasi dalam teknologi dan keuangan, yang dipicu oleh peperangan yang tak henti-hentinya dan dorongan untuk ekspansi ekonomi; dan

(3) revolusi identitas radikal, yang dipicu oleh Reformasi Protestan.

Banyak kekaisaran yang mapan takut dan menentang perubahan struktural ini. Tetapi karena alasan geografi, politik dan budaya, Republik Belanda adalah satu-satunya negara di Eropa abad keenam belas yang memanfaatkan ketiga revolusi tersebut sebagai momentum untuk melakukan ekspansi global. Dengan demikian, Belanda menjadi negara paling makmur di Eropa dan di dunia.

Sejarawan ekonomi terkemuka Angus Maddison berpendapat bahwa “dalam empat abad terakhir hanya ada tiga negara yang menjadi pemimpin,” yang didefinisikan sebagai negara terdepan global dalam teknologi dan produktivitas tenaga kerja. Sejak sekitar tahun 1890, pemimpin itu adalah Amerika Serikat. Selama sebagian besar abad kesembilan belas, itu adalah Inggris Raya. Dan sebelum itu, Maddison berpendapat, Belanda adalah negara dengan kinerja terbaik.

Bahkan hingga saat ini, hampir lima abad setelah jaman keemasan mereka, Belanda memiliki salah satu pendapatan rata-rata tertinggi di planet ini dan secara konsisten berada di peringkat sepuluh besar dalam Indeks Pembangunan Manusia PBB (yang mengukur kualitas hidup: kekayaan, harapan hidup, dan pendidikan).

Saat ini, Belanda menempati peringkat ke-18 GDP per kapita (ke-5 di Uni Eropa), sebesar $73,000. Rotterdam, kota pelabuhannya masih mewarisi kedigdayaan maritim negara ini hingga kini. Kota terbesar ke-2 (secara populasi dan ke-1 daei sisi luas wilayah) di Belanda ini merupakan pelabuhan tersibuk di Eropa sehingga disebut “Gateway to Europe”.

*Catatan tentang buku Age of Revolutions karya Fareed Zakaria 

  1. Fareed meneliti setidaknya 200 revolusi sejak tahun 1600. Multi-perspektif (sosial, politik, ekonomi): Revolusi Belanda, Revolusi Perancis, Bolshevik, Revolusi Industri, Revolusi Amerika, Revolusi Teknologi, Revolusi Iran dst
  2. Revolusi yang langgeng dan mengubah struktur masyarakat secara permanen umumnya bersifat bottom up. Sementara yang top-down seperti Revolusi Perancis dan Bolshevik malah menimbulkan kerusakan lebih besar setelahnya.

[Selesai]