(tanggapan atas pidato Presiden Prabowo di depan Sidang Paripurna DPR RI – bagian 1)
Rabu, 20 Mei 2026 lalu, Presiden Prabowo membuka data GDP per kapita Negara Belanda di hadapan Sidang Paripurna DPR RI. Data yang terpublikasi luas secara internasional, namun disajikan Prabowo dalam konteks bagaimana penjajahan Belanda terhadap Indonesia telah mendorong kekayaan negeri tersebut unggul setidaknya dalam 4 abad lamanya, sejak tahun 1500, diatas negara-negara seluruh dunia. Sebuah data yang jika didalami, sebenarnya punya makna lebih dari sekedar “cara kaya sebuah negara” atau pembelajaran tentang eksploitasi sebuah negara terhadap negara lainnya.
Dalam buku The Age of Revolutions: Progress and Backlash from 1600 to the Present (2025), Fareed Zakaria menyoroti zaman keemasan Belanda sebagai revolusi modern pertama di dunia. Pada rentang waktu yang dibahas Presiden Prabowo, yakni saat Indonesia dijajah (sejak 1602 saat VOC berdiri dan 3 abad setelahnya), ada banyak hal lain yang telah dilakukan Belanda untuk melanggengkan diri sebagai bangsa terdepan, termaju dan terkaya.
Sebelumnya, pada tahun 1566, ketika sejumlah kerajaan kecil Belanda memberontak melawan penguasa Habsburg di Spanyol, hanya sedikit yang dapat meramalkan dampak bersejarah dunia yang akan ditimbulkan oleh pemberontakan ini, apalagi membayangkan bahwa Belanda yang kecil dan lembap, yang saat itu sebagian besar terdiri dari kota-kota kecil di sepanjang pantai yang dingin dan rawan banjir (mengutip Presiden Prabowo bahwa Belanda, dari selatan ke utara memerlukan 8 jam perjalanan darat, dan dari barat ke timur 4 jam perjalanan darat, sedikit lebih kecil dibanding Provinsi Sulawesi Selatan), akan menciptakan negara-bangsa modern.
Belanda kala itu menciptakan standar baru untuk mendefinisikan kekuasaan di dunia modern: bahwa negara yang dominan bukanlah negara dengan populasi terbesar atau tentara terkuat semata, tetapi negara dengan ekonomi paling makmur dan teknologi paling inovatif. Thesis ini mengemuka karena Belanda tentu perlu fondasi dalam negeri yang kokoh dan kebijakan negara yang kuat sebelum kaya dari penjajahannya, selama berabad-abad.
Republik Belanda (sering disebut sebagai Kerajaan Belanda, meskipun secara teknis merupakan republik selama masa kejayaannya) menjadi kekuatan ekonomi bukan karena ukuran atau kekuatan militer semata, tetapi melalui inovasi kelembagaan yang inovatif.
Berikut adalah bagaimana mereka mencapai status ini, diuraikan berdasarkan dimensi spesifik yang diuraikan Fareed Zakaria dalam bukunya:
1. Inovasi Politik: Kekuatan Desentralisasi

Tidak seperti monarki absolut yang memerintah sebagian besar Eropa (seperti Prancis dan Spanyol), Belanda menciptakan struktur politik yang sangat berbeda. Diantaranya kekuasaan tidak dipegang oleh raja yang berkuasa berdasarkan hak perwakilan tuhan, tetapi oleh Regenten — kelas pedagang kaya dari oligarki perkotaan.
Yang kedua adalah desentralisasi radikal: Provinsi beroperasi sebagai konfederasi yang diberikan kebebasan. Negara-kota dan provinsi setempat mempertahankan otonomi yang luas, mencegah pusat memberlakukan pajak yang mencekik atau membunuh inisiatif bisnis.
Ketiga adalah aturan hukum: Belanda menetapkan sistem hukum yang dengan tegas melindungi hak milik pribadi. Orang asing dapat menginvestasikan uang di Amsterdam karena tahu bahwa pemerintah tidak dapat secara sewenang-wenang menyita aset mereka.
2. Inovasi Ekonomi: Menciptakan Kapitalisme Modern
Zakaria menekankan bahwa Belanda pada dasarnya menciptakan infrastruktur kapitalisme global modern, memungkinkan negara kecil dengan sedikit sumber daya alam untuk mendominasi perdagangan global.
Pertama, bursa saham perusahaan secara terbuka beroperasi pertama kali di Belanda. Dengan menciptakan Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) pada tahun 1602 dan Perusahaan Hindia Barat Belanda (WIC), memungkinkan warga biasa untuk membeli saham. Inisiatif ini berhasil mengumpulkan sejumlah besar modal publik untuk mendanai ekspedisi perdagangan global yang berisiko namun imbal hasil tinggi.
Untuk memperdagangkan saham-saham ini, mereka menciptakan Bursa Saham Amsterdam, yang mempelopori pasar modal modern. Bank Amsterdam (Amsterdamsche Wisselbank) juga didirikan pada tahun 1609, bank ini menjadi bank sentral pertama di dunia yang efektif. Bank ini menawarkan mata uang yang sangat stabil dan tidak terdevaluasi, menjadikan Amsterdam sebagai pusat keuangan dunia tempat semua orang datang untuk menyelesaikan hutang internasional.
Dominasi pelayaran: Belanda merancang fluyt — kapal dagang murah, berkapasitas muatan tinggi, dan berawak sedikit. Hal ini memungkinkan mereka untuk mengalahkan setiap pesaing dan mengendalikan “perang kargo” Eropa, mengangkut segala sesuatu mulai dari gandum di Baltik hingga rempah-rempah Asia, khususnya Nusantara.
3. Toleransi Beragama yang Pragmatis
Meskipun orang Belanda sangat menganut Calvinisme (cabang Protestan yang ketat dan tradisionalis, identik dengan tokohnya John Calvin dan para teolog reformis), pendekatan mereka terhadap agama didikte oleh perpaduan antara prinsip-prinsip luhur dan logika bisnis yang pragmatis.
Toleransi hidup beragama (toleransi pragmatis = Gedogen): Orang Belanda menyadari bahwa intimidasi agama berdampak buruk bagi bisnis. Meskipun Katolik secara resmi dikendalikan eksposnya di depan publik oleh Protestan, negara relatif tidak memedulikannya dan memilih untuk tidak menjadi pengawas hati nurani rakyat.
Safe Haven, tempat aman untuk sumber daya manusia (SDM): Karena toleransi ini, Belanda menjadi magnet bagi minoritas yang paling teraniaya, kaya, dan terdidik dari seluruh Eropa. Belanda menyambut dengan terbuka Huguenot (pengrajin terampil) dari Perancis, Yahudi Spanyol dan Portugis (yang membawa jaringan perbankan yang luas), dan pengungsi Flemish (migran dari Flanders, wilayah Belgia yang berbahasa Belanda). Masuknya bakat dan modal besar-besaran ini mendorong perekonomian Belanda.
(Bersambung ke bagian 2)