Dengan tujuan apapun, relaksasi atau dikomersialisasi, katarsis untuk kritik sosial atau mengisi waktu senggang, untuk tujuan eksibisi atau sekedar dipandangi sendiri, diunggah di media sosial serta memenuhi dinding rumah, penciptaan karya seni memerlukan tiga hal yang sebetulnya tidak sederhana: keahlian, konteks dan cerita di baliknya. Menurut kamus Oxford, seni diartikan sebagai ekspresi dari kreatifitas dan imajinasi, berbentuk karya visual seperti seni lukis atau patung yang dihargai karena keindahan atau kekuatan emosinya.
Tapi kita tidak sedang membahas definisi atau kerumitan teori dibalik karya seni. Karena menekuni seni lukis – setidaknya 3 tahun belakangan ini secara otodidak – maka saya akan elaborasi seni lukis, bukan cabang seni lainnya. Selain berhubungan dengan estetika dan rekayasa, seperti yang saya tulis sebelumnya tentang “Seni dan Rekayasa Peradaban” disini, melukis juga berhubungan langsung dengan pengembangan kognisi, daya cipta alias kreasi dan kemampuan adaptasi. Mengapa? Berikut beberapa sebabnya:
1. Penciptaan Realitas didahului Penciptaan di Alam Pikiran
Bayangkan sebuah kanvas kosong, dari sebuah bidang putih kemudian kita isi dengan sketsa, lalu warna dan harmoni. Di dalamnya ada perspektif, intensitas warna yang beraneka, bentuk dan formasi. Seni adalah sebuah latihan ‘mencipta’ – dari tiada menjadi wujud – yang lahir dari sebuah proses imajinasi dan kreasi visual di layar proyektor otak manusia. Kemudian lahirlah sebuah karya, yang ditransfer melalui perintah kepada motorik halus untuk menggerakkan kuas, mencampur warna dan menggoreskannya. Lebih sering melukis, keterampilan motorik kita akan meningkat.

2. Strategi, Perencanaan dan Adaptasi
Sebuah karya lukis, meski bergaya abstrak dan ekspresif sekalipun, memerlukan perencanaan. Contoh sederhana adalah formasi atau bentuk apa yang akan muncul dalam bidang gambar. Bagaimana tata letaknya, perspektif dan harmoninya. Warna dan kesan apa yang akan dicipta. Begitu pula ketika memulai pewarnaannya. Bidang mana yang akan mendapatkan sentuhan terlebih dahulu. Dengan strategi apa: wet-on-dry atau dry-on-dry (dalam teknik yang dikenal dalam watercolour painting). Bagaimana campuran warnanya, intensitas cat dan porsi airnya. Begitu pun, bagaimana jika hasil tak sesuai rencana, adaptasi apa yang harus dilakukan. Siklus rencana-eksekusi-evaluasi-adaptasi ini dalam jangka panjang akan melatih sikap, pikiran dan mental yang diperlukan manusia untuk menghadapi berbagai situasi riil dalam hidup.

3. Menghambat Penurunan Kemampuan Kognisi
Studi menunjukkan bahwa orang yang memiliki kegiatan kreatif seperti menulis, melukis dan menggambar memiliki peluang lebih rendah untuk kehilangan ingatan dan masalah kognitif lainnya. Beberapa kasus penurunan kognitif dikaitkan dengan rendahnya aktivitas otak. Jika kita tidak menggunakan otak seiring bertambahnya usia, maka resiko penurunan kognisi lebih tinggi.
Studi tahun 2017 dari Mayo Clinic menunjukkan bahwa orang dewasa di atas 70 tahun yang berpartisipasi dalam seni dan kerajinan memiliki risiko lebih rendah dalam masalah kognitif daripada orang dewasa yang membaca atau terlibat dalam aktivitas lain.

4. Mengikis Distraksi
Di jaman ketergantungan manusia terhadap gawai yang penuh dengan informasi acak media sosial – seringkali toksik – telah menyebabkan kebekuan otak dan pudarnya konsentrasi atau fokus. Meluangkan waktu untuk berhadapan dengan kanvas atau kertas dapat melatih pikiran menjauh dari distraksi. Gejala yang tampak dari penggunaan berlebihan media sosial, misalnya kesulitan menentukan prioritas kerja, melakukan banyak hal secara simultan yang menurunkan kualitas hasil, dapat perlahan teralihkan.

Tiga puluh menit hingga dua jam di akhir pekan yang dilakukan secara kontinyu, dapat menjadi latihan yang baik bagi otak, mental dan fisik (motorik) untuk usia berapapun.
5. Menjaga Kekuatan Ingatan
Ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa melukis meningkatkan daya ingat, dimana otak akan terlatih untuk memanggil (recalling) kembali memori dan informasi yang tersimpan, khususnya informasi visual, saat melakukan aktivitas sketsa dan mewarna. Melukis juga dapat mempertajam pikiran melalui visualisasi dan implementasi konseptual. Memori dan imajinasi saling mengait dan memengaruhi untuk menghasilkan sebuah karya lukis yang dikehendaki.

6. Kesehatan Mental
Saat merencanakan, melukis hingga tercipta karya lukis, seluruhnya merupakan proses mental yang kontinyu. Adanya ekspresi rasa hingga kepuasan setelah lukisan selesai adalah rangkaian emosi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa melukis dapat meningkatkan sikap optimis. Melukis membuat munculnya harapan. Beberapa orang menjadi lebih bahagia hanya dengan melukis sendirian. Yang lain menjadi lebih bahagia karena bisa bersama orang lain dalam sebuah kelas melukis.

Sebagian yang lain dapat memperbaiki suasana hati mereka saat melukis karena dapat mengurangi stres. Para peneliti kesehatan di Harvard percaya bahwa seni adalah obat yang baik. Para peneliti mengutip penelitian selama puluhan tahun yang menunjukkan hubungan antara seni dan risiko demensia yang lebih rendah. Mereka juga mengutip studi yang menunjukkan bahwa seni visual dapat mengurangi stres dan meningkatkan relaksasi pada orang yang dirawat di rumah sakit atau di rumah karena sakit.
Tidak semua orang menyukai seni. Seiring bertambahnya usia, lebih sedikit lagi yang bersedia menggunakan seni sebagai sarana berlatih meningkatkan kemampuan kognisi, perencanaan, berekspresi, berlatih fokus dan menjaga kesehatan mental.
Padahal pada usia sekolah, setiap siswa wajib berimajinasi dan berkreasi melalui karya tulis, lagu dan gambar. Sebuah keterampilan dan kegembiraan, yang makin diperlukan oleh manusia justru saat menuju senja.
Klik untuk tulisan, karya lukisan dan foto lainnya disini https://linktr.ee/cak.endy