YEARS OF SURVIVAL

Dari awal pemerintahannya, di berbagai kesempatan, Presiden RI Prabowo Subianto sudah melihat bahwa masa kepemimpinannya akan menghadapi “the years of survival”.

Mulai ancaman konflik kawasan, regional dan global. Hampir di seluruh wilayah, konflik meletup satu per satu. Diawali Rusia-Ukraina, perang terbuka Amerika dengan Kuba, Thailand-Kamboja, Jepang-China serta berbagai konflik permanen yang naik-turun intensitasnya. Termasuk China-Hongkong dan China-Taiwan, Palestina yang menyeret kawasan, India-Pakistan, dalam negeri Irak dan lainnya.

Termasuk dalam ancaman adalah konflik dalam negeri, disintegrasi dan juga bencana. Diantara cara survive, negara harus memastikan penguasaan dan ketersediaan FEW (Food, Energy, Water). Tiga hal iitu adalah fundamental eksistensi negara.

Awal Januari 2025 lalu yang diperkirakan krisis pangan, terlewati dengan surplus. Bulan Ramadan yang diperkirakan inflasi seperti yang sudah-sudah, sebaliknya harga terkendali. Di tingkat petani, efek keberpihakan pemerintah terasa betul. Posisi sebagai “produsen pangan” membuat kebijakan menjadi pro-petani sepenuhnnya.

Untuk pertama kalinya, Indonesia surplus beras. Bahkan bisa menyumbangnya ke berbagai negara termasuk Palestina. Namun di akhir tahun 2025, bencana menerjang. Banjir besar di Sumatera, Jawa Barat, Malang dan banjir lahar di lereng Semeru menjadi tambahan ujian.

Akibat banjir besar Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, 40.000 hektar sawah terendam. Hal ini dapat mengganggu ketahanan pangan nasional. Hampir seribu nyawa terenggut dan infrastruktur jalan serta telekomunikasi terputus. 

Akhir 2025 ini, Indonesia perlu memperkuat soliditas, strategi menghadapi ujian khususnya bencana dan langkah antisipatif menghadapi berbagai ancaman dalam dan luar negeri. Semoga Indonesia lulus dari ujian, serta mau dan mampu terus berbenah serta belajar dari ujian yang menghampiri.