Setelah topik tentang hubungan ekonomi dengan China beberapa waktu lalu, kali ini tentang Turkiye.
Masih dibawah tekanan inflasi akibat krisis moneter (banyak yang mengatakan pemicunya adalah keterlibatan Turkiye yang terlalu dalam pada krisis tetangganya dalam bentuk membuka gerbang untuk pengungsi Suriah dan ekspansi militer di Libya, Azerbaijan, juga Suriah dan Gaza), harga-harga melonjak 3-4x lipat.
Dulu, turis Indonesia bak raja borong barang-barang Turkiye dengan harga sangat murah. Padahal saat itu, nilai tukar IDR terhadap TL masih tinggi dibanding saat ini. Sekarang TL anjlok menjadi 4.400-an. Dulu 450-an rupiah per TL.
Dengan tekanan terhadap nilai tukar, artinya barang-barang Turkiye, termasuk perlengkapan pertahanan & keamanan, otomatif, material bangunan dan jasa konstruksi menjadi sangat murah. Termasuk di Indonesia.
Sebuah kesempatan besar untuk menjadi mitra bisnis mereka untuk mengembangkan ekonomi Indonesia.