Soal modal ekonomi, Indonesia baru punya posisi kuat di sektor sumber daya alam dan mineral, jumlah pekerja melimpah dan pasar alias konsumsi.
Soal modal teknologi, Indonesia baru mulai belajar riset, uranium, nano teknologi, downstream tambang (hilirisasi) dan militer seperti kapal selam dan rantis.
Soal modal politik, Indonesia lebih advance. Memainkan kekuatan diplomasi dari sejarah panjang keterlibatan menjaga perdamaian dunia, gerakan moral menentang penjajahan, bantuan pangan di daerah konflik.
Tiga modal itu: EKONOMI, TEKNOLOGI dan POLITIK saling kait menjadi kartu kekuatan bangsa dalam kancah dunia.
Selama kurang lebih 15 tahun berhubungan baik dengan dunia usaha dua negara dalam aliansi BRICS yakni Turkiye & China, saya melihat pergeseran cara pandang mereka terhadap Indonesia belakangan ini.
Dulu mereka menilai Indonesia cenderung sebagai pasar semata. Sekarang mitra. Apalagi dua negara itu mengalami kejenuhan ekonomi dalam negeri dan perlu ruang pertumbuhan di luar.
Turkiye bermanuver melalui sektor hankam dan teknologi, oleh sebab itu industri pertahanannya mengalami pertumbuhan signifikan, melalui ‘campur tangan’ di Azerbaijan, Libya, Suriah dan sekarang Gaza.
China, yang lebih punya sejarah defensif, memilih ekspansi ekonomi. Di Afrika, Timur Tengah dan Asia Tenggara.
Keduanya sekarang mengarahkan fokus ke Indonesia. Tapi sekali lagi bergeser, bukan sebagai pasar, melainkan mitra. Indonesia telah berada di posisi yang setingkat lebih baik bagi investor dan produsen luar negeri.
Kembali kepada kita, apakah tertantang melihat peluang? Awalnya modal dengkul, bergerak, muncul percaya diri dan akhirnya menjadi ikatan kepercayaan.