Sewaktu Jerman menginvasi Polandia dalam sebuah operasi Blitzkrieg atau serangan kilat pada 1 September 1939, Uni Soviet yang sebelumnya mengikat perjanjian saling jaga dengan Polandia dan tetangga-tetangganya di timur Eropa, malah tergoda ikutan nimbrung. Negara kecil itu akhirnya tercabik-cabik diserang dari dua arah. Sejak itu, dunia terperangkap ‘spiral of silence’ – diam dalam keterkejutan akibat aksi Jerman yang tak bisa dilawan. Cepat, masif dan berlanjut.
Selain aspek pertahanan, perang sudah pasti saling beririsan dengan sektor ekonomi, bisnis, politik, pakta kawan-lawan, aliran investasi, kepemimpinan nasional, resiliensi rakyat negara bertikai, ketahanan FEW (food-energy-water), intelijen, perang media-propaganda dan banyak elemen lainnya. Perang modern dalam rentetan sejarahnya, adalah tentang penguasaan sumber daya ekonomi termasuk di dalamnya SDA, dengan atau tanpa letusan peluru. Lokomotifnya, atau bergantian sebagai gerbongnya, adalah agama dan idiologi. Pemicu atau ikutan.
Pendukung aliran dan agama semata dalam memandang perang USA+ISR vs IRA mungkin menemukan kebuntuan dalam mencerna apa yang terjadi. Kerumitan ini bertemu dengan realita Ortodoks & Komunisme di RUS & CHN yang diam maupun terbuka mendukung IRA dari belakang, PAK yang tiba-tiba bangkit, IRAK yang menjadi medan diametral Syiah vs tentara bayaran Kurdi. Turki dan produsen alutsista lainnya sedang kebanjiran order. Sementara EU yang sedang berat hidupnya akibat krisis energi sejak RUS vs UKR ingin selamat. NATO netral dan basa-basi mendukung Trump.
Dalam situasi ini, INA harus banyak bersyukur namun mesti terus berstrategi dalam situasi krisis. Ketahanan pangan kita tercipta. Minyak (dan gas) meski impor, 3 eksportir terbesar ke INA bukanlah dari Timteng. Banyak lagi. Tapi syukur dan doa bukanlah strategi. Andai, misalnya, 10 tahun terakhir Indonesia serius dalam industri strategis pertahanan, misal di industri kapal selam dan munisi, hari ini kita akan untung besar. Ke depan sektor ini mesti diseriusi selain donwstreaming energi dan mineral untuk minimal suplai kawasan.
Sektor riil juga sedang manis-manisnya. Pada hari pertama Dubai digempur, surga keuangan dunia ini menghamburkan minimal USD20 Milyar ke sistem keuangan di timur. Singapura dan Indonesia diantaranya. Bukan ke Eropa. Siapa yang bisa menangkap dana muntah ini? Lalu Injourney diantara yang mengiming-imingi armada airlines asal Middle East untuk pindah parkir disini, sayang tampak kalah cepat dan murah dibanding Spanyol yang menang kontrak. Dibalik kecamuk pertempuran ada banyak peluang.
Dalam laporan TRT, beberapa negara yang akan merugi besar akibat dampak perang yang terjadi adalah:
(1) G-7 termasuk Jerman, Italia dan UK sebagai manufakturer raksasa. US mungkin bertahan dengan cadangan besar minyak yang mereka baru rampok dari Venezuela, tapi Trump dalam resiko besar berhadapan dengan Demokrat dan guncangan krisis lainnya di dalam negeri,
(2) Negara-negara teluk yang langsung terdampak secara hankam dan transportasi minyak melalui Hormuz,
(3) Para importir besar minyak dari Timteng seperti JPN, INDIA & PAK,
(4) Negara yang neracanya defisit parah dan hutang menumpuk seperti SRILANKA & BANGLADESH.
Perang belum jelas ujungnya dan INA 🇮🇩 harus menjaga ekonomi dan sosial masyarakatnya. Waspada terhadap kemungkinan tekanan luar dan dalam negeri. Juga potensi konflik langsung dengan negara tetangga yang sedang lapar dan kesulitan. Negara atau anasir yang lapar dan disuntik dana bisa berbuat apa saja. Proxy US ada dimana-mana.
Kita tidak ingin jadi santapan banyak pihak seperti Polandia. Juga tidak ingin bahkan seperti Austria pada 1789, yang harus memilih melawan Kesultanan Ottoman dalam perang-perang susulan setelah Battle of Vienna atau bersama sekutunya mengatasi revolusi yang meluas dari Perancis. Austria menang melawan Ottoman. Namun rentetan kekalahan Austria membawa kekaisaran Hapsburg ini terpecah-pecah puncaknya pada 1848.