“Jika kami sudah merdeka, maka hal itu – bisa atau tidak bisa kami mengurus negara – bukan lagi urusan Jaksa dan Hakim Belanda. Dan, kalau pun kami tidak bisa mengurus, kami lebih senang melihat Nusantara tenggelam di lautan daripada tetap menjadi embel-embel (jajahan) negara lain” (Muhammad Hatta)
Setidaknya ada dua bangunan bernama “Hatta” di dunia untuk mengenang proklamator Indonesia. Satu di Bukittinggi, satu di Rotterdam, Belanda. Kota dimana Muhammad Hatta pernah bersekolah, melakukan aktivitas pergerakan, menyuarakan Indonesia merdeka, mendirikan dan menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia. Kemudian sempat mencicipi penjara selama 3 tahun karena aktivitasnya.

Museum di Bukittinggi adalah bangunan tempat Bung Hatta lahir. Sedangkan di Rotterdam, tepatnya di tengah-tengah Erasmus University, adalah bangunan asrama dan pusat kegiatan mahasiswa bernama Hatta Building.
Bung Hatta sekolah tingkat dasar di HIS Bukittinggi, kemudian pindah ke ELS (Europeesche Lagere School) di Padang. Lalu melanjutkan sekolah tingkat SMP di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Padang dan SMA (Setara) di Prins Hendrik School (PHS) di Jakarta.
Setelah menerima beasiswa dari Yayasan Van Deventer, kurang lebih 11 tahun Bung Hatta bersekolah di Erasmus University – dulu bernama Netherlands School of Commerce – pada tahun 1921-1932. Tiga belas tahun setelahnya, Bung Hatta menjadi Wakil Presiden RI pertama mendamping Sukarno.
68 tahun kemudian, pada tahun 2009, namanya diabadikan sebagai nama gedung 17 tingkat dengan 372 kamar di dalam kompleks Universitas Erasmus, Rotterdam – dihuni mahasiswa beragam ras dan bangsa.

Kwik Kian Gie mengatakan salah satu alasan Universitas Erasmus menyematkan nama “Hatta” sebagai nama bangunan utama di kampus adalah untuk menghormatinya. Hatta gigih melakukan pembelaan saat diadili karena memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dugaan sebab lainnya adalah inisiatif ‘recovery’ hubungan antara Belanda dan Hindia Barat – Indonesia – setelah penjajahan panjangnya.
Selain Hatta, Kwik dan Prof. Sumitro Djojohadikusumo – ayahanda Presiden Prabowo – juga lulusan Erasmus University. Nama Hatta bersanding dengan nama-nama besar yang juga diabadikan sebagai monumen. Selain Desiderius Erasmus (seorang filsuf, akademisi dan teolog abad XV) yang menjadi nama universitas, ada juga nama Gedung Tinbergen (Jan Tinbergen, peraih nobel ekonomi 1969), Gedung Theil (Henri Theil, pakar ekonometrika yang teorinya masih dipakai hingga saat ini).

Juga ada gedung Polak (Nico Polak, profesor ekonomi) dan gedung Van der Goot (ekonom & feminis). Umur nama Hatta akan sangat panjang, dikenal dan dikenang 20 ribuan mahasiswa yang mengais ilmu di kampus ini setiap tahunnya.