Lebih banyak lukisan yang saya berikan sebagai tanda mata kepada rekan atau sejawat dibanding yang dipajang, diunggah apalagi dipamerkan. Karena lukisan saya bertema acak – meski biasanya bertema alam dan arsitektural – saya bebas pilih mana yang paling ‘kena’ secara tema sebagai hadiah.
Misalnya lukisan ukuran A4 Masjid Cheng Ho di Jember, Jawa Timur, saya hadiahkan untuk rekan seorang Singaporean yang telah lama tinggal di Indonesia namun belum pernah ke kampung halaman saya itu. Atau lukisan tentang Seaplane yang sedang mendarat di tengah event Sail to Indonesia untuk Sekjen Kementerian Perhubungan.
Pernah juga saya lukis dengan tema grafis bertema Masjid Al-Aqsha dan Masjid Istiqlal untuk Wamenlu RI Anis Matta. Lukisan saya hadiahkan untuk beliau saat ulang tahun Partai Gelora Indonesia ke-5 pada tahun 2024 lalu. Satu lukisan lagi saya hadiahkan untuk Fahri Hamzah, Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, berisi pemandangan Pantai Gelora di Sumbawa, kampung halamannya, saat sunrise.
Beberapa waktu terakhir, saya juga bertukar hadiah dengan seorang pimpinan perusahaan di Tiongkok. Dia seorang perempuan yang pemalu, pemilik perusahaan komposit untuk Electric Vehicle dan rumah instan modular di berbagai negara. Waktu datang pertama kali ke Yucheng, Provinsi Shandong, sambil makan malam, dia menyerahkan lukisan ayam di atas kertas minyak khas China yang bermakna keburuntungan. Saya terima dengan senang hati.
Beberapa waktu lalu, CEO dan sekretarisnya datang ke Indonesia untuk urusan bisnis. Rupanya sang Chairwoman menitipkan buku SANGAT TEBAL yang setelah saya timbang beratnya 7kg! Buku itu berjudul “The Most Beautiful of Dunhuang”, berisi 400-an karya lukis dari Dunhuang, sebuah wilayah di barat laut China tempat kebudayaan dan sejarah besar Budha berkembang. Di Amazon, buku besar, tebal dan berat ini harganya 12 jutaan.

Dia, berdasarkan keterangan stafnya, sangat serius dalam seni lukis. Mungkin bukan hanya dalam aspek teknis, tapi juga sejarah dan sains di baliknya. Keluarga besarnya tinggal di Kanada dan anak perempuannya belajar khusus seni lukis disana.
Saya titipkan untuknya lukisan cat air bertema Selat Bosphorus di Turkiye yang memang dia pilih sendiri waktu alternatif lukisan saya kirim melalui stafnya.
Kata stafnya: “I delivered your drawing to our chairperson yesterday and she was very happy to receive it. I wanted to take a photo of her and our drawing but she was shy. She wanted me to tell you that she appreciates your present and will enjoy it very much, Mr. Endy”
Ketika CEO dan sekretarisnya, Mr Shin & Elaine – keduanya warga negara Korea Selatan meski bisnisnya di China – datang kembali beberapa hari lalu, giliran mereka saya berikan kenang-kenangan. Dua lukisan kecil, ukuran A5 yang bertema gedung-gedung pencakar langit di Indonesia dan rumah subisidi untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Saya bilang “Itulah spektrum siapapun yang masuk ke Indonesia untuk membantu program perumahan. Antara rumah vertikal dan rumah tapak yang layak untuk masyarakat.”
Lebih dari sekedar benda berharga mahal, lukisan – dibuat sendiri atau dibeli – adalah hadiah yang bermakna dan bernilai abadi. Lukisan melambangkan sebuah koneksi pribadi, seringkali emosional dan dapat meningkatkan energi menjadi positif.
Sebuah lukisan bukan hanya pigmen warna di atas kertas atau kanvas. Ia adalah hasil pemikiran, kesabaran, dan emosi selama berjam-jam yang dituangkan ke dalam warna dan bentuk. Ketika saya memberikan hadiah sebuah lukisan, saya menawarkan lebih dari sekadar objek: saya berbagi sebagian dari diri saya sendiri yaitu perspektif, selera, cita-rasa.
Sekalipun penerima tidak menganggap diri mereka sebagai “orang yang mengerti atau mencintai seni,” mereka akan melihat usaha, niat, dan ketulusan di baliknya. Itulah yang membuatnya istimewa.
Silakan coba sendiri!!