Ada data World Happiness Rating tahun 2013-2017 yang menyusun peringkat negara paling bahagia di dunia, tertinggi Denmark dengan indeks 7,57 disusul Swiss 7,56 dan Norwegia 7,55.
Dari 27 negara yang masuk peringkat paling bahagia teratas, dominasi negara makmur terlihat nyata. Khususnya negara-negara Skandinavia menguasai peringkat 5 tertinggi. Ada Denmark, Norwegia, Islandia dan Finlandia.
Tapi ada pula Brazil, Puerto Rico, Mexico, UAE, Chile dan Panama di dalam daftar, deretan negara menengah dalam hal kemakmuran dan kemajuan.
Di Denmark berdiri Happiness Institute, institut kebahagiaan yang meneliti dan mendalami sains tentang kebahagiaan. Diantara temuan-temuan menariknya adalah:
1) Uang semata, atau penghasilan penduduknya, bukanlah penentu kebahagiaan, melainkan secara emosional adanya perasaan bermanfaat terhadap dan perasaan didukung oleh lingkungannya. Singkatnya: kebersamaan dan komunalitas. OECD mengeluarkan data peringkat penduduk negara yang menyatakan “dapat bergantung pada dukungan teman atau tetangganya”. Selandia Baru tertinggi, disusul Islandia, Denmark (lagi), Spanyol dan seterusnya. Indonesia belum muncul dalam peringkat karena baru melengkapi persyaratan untuk resmi menjadi anggota OECD Februari 2025 lalu.
2) Penduduk negara yang bahagia membayar pajak tanpa perasaan sedang diperas oleh negara namun dengan cara pandang sebagai sebuah investasi untuk kemanfaatan bersama. Sembilan dari sepuluh rakyat Denmark menyatakan membayar pajak dengan gembira. Padahal mereka harus membayar pajak penghasilan hingga 52% (Indonesia: 13%).
Adanya perasaan kebersamaan, saling menopang, membantu, dibantu, kerekatan dengan teman dan tetangga, atau dalam bahasa sederhana kohesi sosial, mendominasi negara-negara yang penduduknya paling bahagia.
Ada pula unsur transparansi pengelolaan pajak di dalamnya. Unsur kehadiran negara dalam mengelola hajat hidup mayoritas rakyat. Itu sebabnya, di negara-negara Skandinavia, pendidikan, kesehatan, transportasi publik, internet, toilet semuanya digratiskan negara.
Bahagia memang tidak melekat pada uang. Uang hanya ‘proxy’. Kecukupan kebutuhan dasar adalah tangga. Aristoteles mendefinisikan eudaimonia atau kebahagiaan sebagai makna atau manfaat dan adanya tujuan dalam kehidupan seseorang (meaningful & purposeful life).
Di Denmark sendiri ada model yang lebih bermanfaat untuk kita contoh. Bofaaellesskab, atau communal housing, atau co-housing scheme, menjadi praktek yang saat ini digandrungi banyak negara. Skema ini murah dan menimbulkan perasaan komunalitas diantara penghuninya.
Sekitar 50.000 warga Denmark menjadi bagian dari Bofaelelesskab dan terus meningkat. Ditiru di Jepang, Kanada, Inggris dan negara maju lainnya. Di Indonesia, ada Rujak Community yang menginisiasi rumah komunal yang ditopang kepemilikan lahan pribadi dan adanya koperasi di Menteng, Jakarta.
Dengan modal dan akar budaya gotong royong, Indonesia bisa membuat kekuatan sosial menjadi salah satu syarat bangkit. Kita perlu bangkitkan dan berikan jalan berkembang, salah satunya berangkat dari rumah komunal. A la Rumah Menteng yang diinisiasi Marco tapi untuk rumah sosial bagi segmen masyarakat berpenghasilan rendah
Referensi:
– LYKKE, The Danish Search for The World’s Happiest People
– HYGGE, The Danish Way to Live Well