Gelaran Piala Dunia ke-29 tahun 2026 yang sedang berlangsung setengah jalan di Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko dipenuhi data menarik untuk kita dalami. Diantaranya tentang pemain imigran dan komposisi asal kontinen negara pesertanya. Sentimen anti-imigran pernah mengemuka dan berimbas dalam helatan dua piala dunia dan Piala Eropa sebelum ini. Misalnya yang menimpa Bukayo Saka pada final Piala Eropa 2020 dan Mesut Ozil, andalan Timnas Jerman keturunan Turkiye-Muslim. Pada 2018, Ozil bahkan harus mundur dari Timnas Jerman akibat tekanan rasisme di negara tersebut.
Berikut fakta-fakta tersebut:
1. Sebanyak 23,3% pemain pada Piala Dunia (PD) 2026 adalah imigran di negara yang mereka bela. Hampir seperempat dari keseluruhan pemain. Angka ini terbesar dari seluruh penyelenggaraan PD. Negara dengan pemain ‘asli’ tanpa imigran hanya 8, yaitu Austria, Arab Saudi, Brazil, Columbia, Ceko, Panama, Afrika Selatan dan Swedia. Data ini berasal dari Oxford University Center on Migration and Policy.
2. Tanpa pemain imigran, kesebelasan Amerika Serikat hanya akan diperkuat 5 orang ‘asli’ (Adam, McKenzie, Ream, Richards dan Frease). Jerman 4 pemain asli (Wirtz, Neuer, Kimmich dan Schlotterbeck). Sementara Inggris dan Perancis masing-masing 2 saja. Inggris: Stone & Pickford. Perancis: Rabiot & Digne.
3. Pada PD 2026 kali ini, negara Islam atau negara dengan mayoritas penduduknya Muslim yang ikut pada putaran final berjumlah paling banyak diantara seluruh gelaran PD sebelumnya. Jumlahnya 13, atau 27% dari total peserta. Deretan negara-negara Islam tersebut yaitu Arab Saudi, Qatar, Jordania, Tunisia, Aljazair, Turkiye, Maroko, Mesir, Senegal, Bosnia-Herzegovina, Iran, Irak dan Uzbekistan.
4. Diantara semua peserta negara Islam dalam PD-2026, Maroko adalah negara dengan peringkat FIFA tertinggi, yaitu peringkat 6. Maroko hanya kalah peringkat dari Argentina, Perancis, Spanyol, Inggris dan Brazil.
5. Sebalik isu imigrasi, dengan cara naturalisasi, Timnas Maroko diisi oleh pemain yang justru berdiaspora paling banyak di Spanyol, Perancis, Inggris, Belanda dan Jerman. Mereka keturunan Maroko namun lahir dan berkompetisi di liga Eropa paling keras dan menjadi sangat kuat ketika dipanggil bermain di Timnas.
6. Pemain Muslim hampir berada di seluruh tim yang berlaga di PD-2026. Termasuk di negara-negara non-Muslim. Diantaranya Kanada (Ismael Kone), Swedia (Yasin Ayari), Osman Dembele (Perancis), Lamine Yamal (Spanyol), dan nama-nama lain di tim Swiss, Inggris (Djed Spence), Jerman (Nadiem Amiri), Amerika Serikat, dan lain-lain.
Sentimen rasis dan agama sejauh ini tidak terlihat dalam berbagai pertandingan di PD-2026. Seiring makin ketat dan runcingnya persaingan, semoga tetap terjaga demikian. Isu usang itu memang tak semestinya muncul dalam sportifitas & kebersamaan yang mewarnai kompetisi olahraga.