A YEAR WITHOUT SUMMER

Tiga bulan setelah letusan dahsyat Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, awan gelapnya sampai juga di benua Eropa. Bulan-bulan hangat antar Juni sampai September diliputi ‘bleak’, sebuah kata mengenai cuaca yang melambangkan ‘dingin dan menyedihkan’ (cold & miserable). Tahun ini dikenang sebagai “A Year Without Summer”, sebuah tahun tanpa musim panas di Eropa.

Napoleon Bonaparte kabur dari penjara Pulau Elba tahun 1814, setelah ia diasingkan akibat kalah dalam Perang Leipzig satu tahun sebelumnya. Kembali ke Perancis, Napoleon menyiapkan serangan balasan untuk melanjutkan obsesi perluasan imperium Perancis.

Koalisi Inggris (Inggris, Belgia, Belanda dan Austria) dan Prusia (Jerman) serta Rusia yang juga lawannya dalam Perang Leipzig pun bersiap untuk perang begitu mendengar Napoleon menggalang kekuatan.

Sebelum lawan-lawannya menyatu, Napoleon memutuskan menyerang lebih dahulu jantung kekuatan Inggris di Eropa Barat. Titik ini di Waterloo, sebuah tanah lapang yang berada 20km di sebelah selatan Brussels, ibukota Belgia sekarang.

Unggul jumlah pasukan, 72.000 pasukan Perancis melawan 68.000 koalisi Inggris, semestinya dimenangi Napoleon si Dewa Perang. Tapi partikel letusan Gunung Tambora, yang menembus Ionosfer dan menyebar hingga ke barat, telah membuat musim tak berlangsung seharusnya. Guyuran air dari langit tiada henti di Eropa dan Amerika Utara.

Hujan membuat medan pertempuran basah dan berlumpur. Napoleon yang menunggu mentari musim panas menunda serangan, menunggunya kering pada tengah hari. Lumpur menyulitkan gerakan pasukan dan laju logistik. Saat itulah pasukan Prusia-Jerman menyergap.

Dalam pertempuran satu hari pada tanggal 18 Juni 1815, Perancis dibawah komando Napoleon Bonaparte kalah. Pertempuran Waterloo mengakhiri kampanye Perancis di seluruh Eropa. 33.000 pasukan Perancis dan 22.000 di pihak koalisi Inggris dan Prusia mati dalam peristiwa ini.

Tanggal 22 Juni 1815, Napoleon menyerah dan sekali lagi turun tahta. Enam tahun kemudian Napoleon mati karena kanker usus di pengasingannya, Pulau Saint Helena, pulau terpencil yang dikuasai Inggris dan terletak di Samudra Atlantik Selatan.

Setahun setelah Waterloo, di tahun 1816, Eropa masih diselimuti kegelapan akibat letusan gunung api Tambora.