Dunia militer dalam berbagai segi implikasinya, baik maupun buruk, adalah penggerak banyak inovasi dan teknologi. Dalam dunia medis seperti fisioterapi, teknologi bedah dan psikologi, misalnya. Atau di bidang telekomunikasi, otomotif, laser, olah data, keamanan dirgantara, IT dan lainnya.
Silicon Valley di Amerika Serikat, tempat tumbuh berbagai perusahaan teknologi komersil berskala global dan ‘kiblat’ inovasi teknoogi dunia, mulanya adalah area inkubasi pendukung teknologi militer Amerika Serikat. Semi konduktor, dirgantara, antariksa, serat optik, teknologi penyimpanan data raksasa di area ini, asalnya adalah teknologi pendukung industri militer.
Sebagian besar penemuan di dunia militer pada akhirnya juga dapat digunakan dalam dunia sipil dan komersil. Standar tinggi dalam keamanan serta tuntutan inovasi tanpa henti biasanya menjadi acuan aplikasinya pada banyak bidang lain. Yang terkini, kecerdasan buatan alias artificial intelligence menjadi salah satu penentu medan pertempuran modern.
Dengan segala keterbatasan pengetahuan militer dan kecerdasan buatan, saya coba membagikan tulisan pendek tentang pengaruh AI dalam letusan konflik di Wilayah Timur Tengah yang terjadi antara Iran dan blok aliansinya melawan Amerika dan Israel.
Tulisan ini saya kutip dan terjemahkan dari unggahan seorang kolega saya, Dr Alper Ozbilen, seorang ahli pertahanan dan intelijen saiber berkebangsaan Turkiye bertempat tinggal di Boston, Ankara, Istanbul dan Dubai. Dr Alper telah 20 tahun malang melintang dalam dunia saiber yang kompetitif, menjadi mastermind strategi saiber nasional negaranya, menjadi grup CEO sebuah perusahaan BUMN alutsista, peneliti, penulis dan juga seorang pengusaha di bidang teknologi.
“Perang yang terjadi saat ini melawan Iran dan eskalasinya di kawasan menunjukkan bahwa kecepatan algoritma berbasis AI telah menjadi faktor baru yang secara langsung dan dramatis menentukan kecepatan peperangan”
Ada tiga elemen penting di balik kecepatan yang kita lihat di medan perang saat ini:
1/ Penargetan berbasis Algoritma
Perlu dicatat bahwa beberapa peluncur rudal dan fasilitas militer di Iran terdeteksi dan dihancurkan dalam waktu yang sangat singkat dalam serangan terbaru. Analisis citra satelit, pengintaian drone, dan intelijen sinyal yang didukung AI secara dramatis mempercepat siklus penargetan. Proses verifikasi target yang dulunya memakan waktu berhari-hari sekarang jauh lebih singkat.
2/ Intensitas Penggunaan Drone dan Koordinasi Otonom
Gelombang drone kamikaze yang digunakan oleh Iran dan reaksi sistem pertahanan Israel terhadapnya menunjukkan karakter baru perang tersebut. Akan sangat sulit bagi mereka (masing-masing pihak) untuk melacak dan memprioritaskan sejumlah besar target secara simultan tanpa sistem yang didukung AI.
3/ Sangat jelas bahwa algoritma pengambilan keputusan pertahanan udara yang digunakan terhadap Iran sangat bergantung pada mekanisme pengambilan keputusan algoritmik untuk membedakan target mana yang merupakan ancaman nyata dan rudal pencegat mana yang akan digunakan dalam serangan rudal dan drone yang datang.
Kecerdasan buatan tentu saja bukan penentu atau jawaban utama (kemenangan dalam) perang. Tetapi kecerdasan buatan telah menjadi pengganda yang ampuh yang secara serius memengaruhi kecepatan perang dan siklus pengambilan keputusan.
Click for more 👉🏻 https://linktr.ee/cak.endy
Keterangan foto: Saya saat mendampingi Dr Alper Ozbilen melakukan pertemuan dengan Wakil Menhan RI Marsekal TNI (Purn) Donny Ermawan Taufanto dan jajaran saiber Kemenhan RI.